100 Hari Tak Mampu Memandang Wajah Suami

Kisah 100 Hari Seorang Istri Tak Mampu Memandang Wajah Suami



ISLAMPOIN - Empat tahun sudah keduanya menikah. Namun pasangan suami istri itu belum juga dikaruniai buah hati. Mulanya mereka tidak merasa ada masalah. Namun saat terdengar bisik-bisik tetangga, sang istri mulai resah.
“Kok belum punya anak ya mereka. Yang punya masalah suami atau istri?” kalimat-kalimat itu sampai juga di telinga mereka. Akhirnya suami istri itu pergi ke dokter.
“Mohon bersabar pak,” kata dokter kepada pria itu sambil menyerahkan hasil lab.
“Istri anda mandul dan agaknya tidak ada harapan untuk bisa hamil.”
“Kalau begitu, jangan sampaikan ini kepadanya Dok”
“Maksud Anda?”
“Saya khawatir itu akan melukai perasaannya. Dokter katakan saja kalau saya yang mandul”
“Tidak bisa begitu. Anda kan tidak ada masalah” Cukup lama mereka berbincang, hingga pria tersebut berhasil meyakinkan dokter untuk mengatakan sesuai keinginannya.
Entah bagaimana ceritanya, tetangga-tetangga yang dulu bertanya siapa diantara suami istri itu yang bermasalah akhirnya mendengar bahwa pria itu mandul. Kabar itu juga sampai kepada kerabat mereka. Kasak kusuk pun semakin kencang. Meski demikian, rumah tangga keduanya masih bertahan. Hingga suatu hari, lima tahun setelah hasil lab itu, wanita itu tak dapat lagi bersabar.
“Sembilan tahun sudah kita berkeluarga, dan selama itu aku dapat bersabar. Sampai-sampai para tetangga kasihan melihatku dan mengatakan ‘kasihan yang wanita shalihah itu. Ia telah bersabar hidup bertahun-tahun dengan suaminya yang mandul.’ Terus terang, aku ingin menggendong anak, mengasuh dan membesarkannya. Kini aku tak dapat lagi memperpanjang kesabaranku. Tolong ceraikan aku agar aku bisa menikah dengan laki-laki lain dan mendapat anak darinya,” kata wanita itu kepada suaminya. Sang suami dengan sabar mendengar tuntutan itu sambil menasehatinya.
“Ini ujian dari Allah sayang… Kita perlu bersabar…”Mendengar nasehat tersebut, emosi istri sedikit mereda.
“Baiklah, aku akan bersabar. Tapi hanya satu tahun. Jika berlalu masa itu dan kau tidak juga memberiku keturunan, ceraikan saja aku.”
Selang beberapa hari, tiba-tiba wanita itu jatuh sakit. Hasil lab menunjukkan, ia mengalami gagal ginjal. “Ini semua gara-gara kamu,” kata wanita itu kepada suaminya yang saat itu menungguinya di rumah sakit,
“Aku terus menahan sabar karenamu. Inilah akibatnya. Sudah tidak punya anak, kini aku kehilangan ginjalku.”
“Apa? Kau akan pergi ke luar negeri?” kata wanita itu dengan nada tinggi, esok harinya ketika sang suami berpamitan kepadanya. Entah bagaimana perasaannya, ia yang kini bad rest di rumah sakit harus berjuang sendiri tanpa suami.
“Ini tugas dinas, Sayang. Dan sekaligus aku akan mencari pendonor ginjal buatmu”
Beberapa hari kemudian, wanita itu mendapatkan kabar gembira bahwa telah ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya. Tetapi dokter merahasiakan namanya.
“Orang itu sungguh baik, Dokter. Ia mendonorkan ginjalnya untukku tanpa mau diketahui namanya. Sementara suamiku sendiri, ia justru pergi ke luar negeri, meninggalkanku sendiri,” mata dokter yang mendengar komentar itu berkaca-kaca. Ia tahu persis siapa yang mendonorkan ginjal untuk wanita itu. Dengan izin Allah, operasi berhasil dengan baik. Wanita itu sembuh. Dan yang lebih menakjubkan, tak lama kemudian ia hamil, lalu melahirkan seorang bayi yang lucu. Ucapan selamat datang dari kerabat dan tetangga. Kini bisik-bisik itu telah selesai.
Dan kehidupan rumah tangga keduanya pun normal kembali.Kini sang suami telah menjadi seorang panitera di pengadilan Jeddah, setelah menyelesaikan pendidikan S2 dan S3-nya. Ia juga telah hafal Qur’an dengan mendapatkan sanad riwayat Hafs dari ‘Ashim. Suatu hari saat sang suami dinas luar, tak sengaja wanita itu menemukan buku harian suaminya di atas meja. Mungkin karena terburu-buru, sang suami itu lupa menyimpannya seperti biasa.
Betapa terkejutnya wanita itu membaca halaman demi halaman episode rumah tangga yang selama ini tak diketahuinya. Bahwa ternyata yang mandul adalah dirinya. Bahwa pendonor ginjal itu adalah suaminya sendiri. Ia pun menangis sejadi-jadinya.
Hampir pingsan ia menyadari kekeliruannya selama ini. Ia yang tak tahan dan ingin minta cerai, padahal suaminya lah manusia paling sabar yang ia temui. Ia kesal dengan suaminya yang pergi saat ia operasi, padahal suaminya terbaring lemah saat itu demi menghibahkan satu ginjal untuknya.Ketika sang suami pulang, wanita itu tak mampu memandang wajahnya. Ia tertunduk malu. Hampir seratus hari lamanya, ia terus begitu. Malu di depan pria yang paling dicintainya dan paling berjasa dalam hidupnya.

10 Perilaku yang Harus Dihindari oleh Kaum Istri

ISLAMPOIN - Menjadi istri yang sholekhah adalah idaman semua wanita namun, ada beberapa 10 perilaku yang menjadikan kita menjadi istri yang tidak sholekhah. Di bawah ini adalah 10 perilaku yang harus dihindari oleh para kaum istri, diantaranya adalah :


1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna

Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron.Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.

2. Nusyus (tidak taat kepada suami)

Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tetapkan untuknya.Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumahLalai dalam melayani suamiMubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnyaMenyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknyaKeluar rumah tanpa izin suamiMenyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami

Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan

Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih

Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”

6. Mengingkari kebaikan suami

“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.Ajaib!! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita, kita saling introspeksi, apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya, maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat, satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan, masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini , jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri, jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

7. Mengungkit-ungkit kebaikan

Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264] Abu Dzar radhiyallahu’Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih.”Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]

8. Sibuk di luar rumah

Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika hni terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

9. Cemburu buta

Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.

10. Kurang menjaga perasaan suami

Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.Demikian beberapa perbuatan yang harus dihindari oleh para istri, yang sudah berjanji menerima suaminya dihadapan Allah SWT ketika didepan penghulu, untuk bisa menerima apa adanya keadaan suaminya. Semoga dengan membaca artikel ini kita dapat menyadarinya betapa perbuatan-perbuatan di atas sangat rusak sekali, dengan menghindari perbuatan-perbuatan tersebut, maka akan menimbulkan akibat keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Bisa berkumpul di SurgaNya Allah bersama suami. Menjadi suami istri sampai Surga.Amiin Yaa Robbal’alamiin…Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

Wanita di Pattani Semangat Menggunakan Jilbab



Wanita diwajibkan untuk mengenakan pakai yang syar'i, dan salah satunya memakai jilbab. Ada sebuah daerah di Selatan Thailand yang dipenuhi oleh wanita-wanita yang berjilbab, tepatnya di Patani. Hal ini menunjukkan semangat muslimah di daerah yang berbasis muslim tersebut. Di tiap sudut jalan, kita akan menemui banyaknya muslimah yang memakai jilbab bahkan cadar.

"Seluruh muslimah di Patani memakai jilbab, jika ada perempuan tidak berjilbab, maka dia orang Budha!" tandas Zakariya, Aktivis Hak Asasi Manusia, kepada Islampos di Patani.

Meski stigma Islam sebagai teroris dilancarkan, Muslimah Patani pantang untuk melepaskan jilbabnya. Dalam segala aktivitas, jilbab menjadi bagian tak terpisahkan bagi mereka.

"Jilbab adalah ajaran Islam. Dan Melayu adalah Islam. Jika ada orang Melayu tidak pakai jilbab, berarti dia buka orang Melayu," tandas Zakariya yang pernah mendapat delapan tusukan dari tentara Thailand.



Bahkan dalam penelusuran ke Mahad Al Bithath Ad-Diniyah, Islampos menemukan lautan jilbab dari para pelajar. Pihak Mahad memang mewajibkan setiap pelajar putrinya untuk mengenakan jilbab lebar hingga menutupi dada.

"Ini adalah pakaian Syar'i untuk muslimah," kata staff pengajar, Abdulah, di Mahad yang menampung 6000 pelajar tersebut.


Sumber: islampos.com

Bagaimana Jika Perempuan Menikah Tanpa Restu Orang Tua



Sesuai dengan  hukum agama, seorang laki-laki yang sudah dewasa tidak menjadi persoalan menikah tanpa restu orang tua. Karena didalam hukum fiqih, pengantin laki-laki yang ingin menikahi perempuan, tidak butuh orang tua untuk duduk menjadi wali dalam akad nikah. Ijab qabul yang dilakukannya cukup dilakukan oleh dirinya sendiri.

Berbeda halnya dengan laki-laki. Seorang perempuan dalam urusan ijab qabul saat prosesi akad nikah, perempuan tidak boleh melakukan akad nikah dan ijab qabul sendiri. Karena pada dasarnya Allah  memang tidak memberikan wewenang itu kepadanya. Allah memberikan wewenang untuk melakukan ijab qabul atas diri seorang perempuan hanyalah kepada ayah kandungnya yang sah, di mana posisinya sebagai wali.

Bagaimana pun juga, baik laki-laki dan perempuan tetap mempunyai  etika bahwa restu orang tua Insya Allah akan menjadi doa keselamatan dan kesejahteraan dalam berumah tangga. Oleh sebab itu, sangat disarankan menikah dengan restu kedua orang tua, karena bagaimana pun kita tidak akan terlahir sebagai manusia apabila tidak melalui perantara orang tua kita.

Apalagi bagi seorang perempuan, bukan etika dan spiritualitas saja yang menjadi pertimbangan, tetapi juga mengantisipasi hal-hal buruk yang bisa saja timbul di kemudian hari. Misalnya, apabila terjadi perceraian, apa jadinya nasib seorang perempuan? Di dunia ini, banyak yang menjadi mantan istri tetapi tidak ada istilah mantan anak. Jika menikah tanpa restu orang tua, kemudian orang tua murka akan menjadi malapetaka sesalnya ditanggung seumur hidup.

Cinta memang terlihat megah, namun hati-hati saat kemegahan itu merobohkan akal sehat. Hukum yang sudah ditetapkan Allah bersifat mutlak, kita tidak bisa mengubahnya. Justru pada saat orang tua kurang menyetujui  inilah yang menjadi bukti ketangguhan seorang laki-laki untuk membuktikan cintanya. Sebagai laki-laki, dirinya harus mampu meyakinkan orang tua si perempuan dengan beragam cara.

Kadangkala orang tua sengaja kurang menyetujui untuk melihat calon menantunya tangguh moral, mental dan spiritualnya untuk menjadikan cinta sebagai kesempurnaan separuh agama, Bukankah selalu ada ujian agar mencapai kebahagiaan yang sempurna. Anggap saja, orang tuamu sedang melakukan hal terbaik untuk memilihkan pemimpin rumah tangga yang bisa bertanggung-jawab dunia-akhirat.

Pada saat laki-laki pilihanmu berjuang meyakinkan orang tuamu, cobalah bermusyawarah dengan orang tua. Jadi kesungguhan dalam meyakinkan orang tua dengan santun dan sabar akan membuka pintu restu yang lebar.

Selamat menjadi peramu cinta, bukan sekedar pemimpi cinta. Peramu cinta berjuang mengolah keyakinannya dengan cara yang baik dan benar. Berjuang dengan sekuat tenaga sembari berpasrah pada ketetapan Allah. Sedangkan pemimpi cinta, masih menikmati pemaknaan cinta sebagai sesuatu yang indah tanpa melalui kerja keras, sehingga begitu menemukan sedikit kesulitan mencoba lari dari jalur kebenaran. Semoga kesanggupanmu menikah dengan seseorang yang dirimu cinta terengkuh dalam jiwa.

Hukum Memanggil Istri Dengan "Ummi, Mama, atau Dek"



Bagaimana sih hukumnya seorang suami yang memanggil istrinya dengan sebutan atau panggilan "Ummi, Adek, Ibu" dan lain-lain, dibolehkan atau tidak didalam Islam? Jika dibolehkan apakah ada dalih dan jika tidak apa pula dalilnya?

Menurut Ustadz Ahmad Isrofiel Mardhotillah, ada pendapat dari Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di yang  berkaitan dengan memanggil istri dengan "Ummi, Ibu atau Dek".

Syaikh As-Sa'di mengatakan :

"Dimakruhkan seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan nama mahramnya seperti 'wahai ibuku', 'wahai saudaraku (mari dek)' atau semacam itu. Karena seperti itu berarti menyerupakan istri dengan mahramnya." (Tasfir As-Sa'di, hal. 893)

Namun, jika melihat dari kebiasaan suami memanggil istrinya dengan panggilan 'ummi, dek, mama atau semisal itu', secara jelas kita tahu bahwa maksudnya adalah bukan panggilan zhihar seperti dimaksudkan orang jahiliyyah.

Maka, panggilan seperti itu hanyalah panggilan biasa, bahkan panggilan yang menunjukkan rasa sayang atau kedekatan. Sehingga kesimpulannya, memanggil istri seperti itu tidaklah masalah.

Pacarmu? Bisa Jadi Jodoh Orang Lain



Pacar? Anak muda sekarang tidak asing lagi dengan kata ini. Pacar adalah seorang yang seringkali hadir sebagai penghias hidup seseorang. Ada yang singgah dalam waktu yang singgah, ada pula yang singgah dalam waktu yang lama dan kemudian pergi dengan menyisakan luka yang dalam dan penyesalan tak berujung. Mungkin ada yang sedang duduk tertawa bersama, tapi bisa jadi kelak dia akan duduk di pelaminan bersama orang lain. Siapa yang tahu? Jadi sahabatku, pacarmu bisa jadi jodoh orang lain.

Jodoh adalah teman hidup yang telah digariskan Allah untuk menjadi pasangan hidup sepanjang hayat hingga maut memisahkan. Ia yang akan menggenggam tangan ayahmu dan berjanji setia untuk mencintaimu seutuhnya "tanpa karena". Jodoh adalah ia yang akan tetap bersamamu, tak peduli apapun yang terjadi, pasti kita akan melewatinya bersama.

Wahai teman, bisa jadi seseorang yang engkau anggap sebagai pacarmu akan jadi pendamping orang lain. Jadi jangan terlalu berharap padanya hingga engkau merelakan segalanya demi apa yang engkau sebut cinta. Karena ia belum tentu jodohmu. Bisa jadi, itu hanya ungkapan cinta padamu, dan esok lusa ia ungkapkan kepada orang lain. Itu bukanlah hal yang mustahil.

Seringkali seseorang menjadi korban dari "peristiwa" ini, dan terus terjadi setiap ahrinya. Tapi anehnya, hanya sedikit dari kita yang menyadari hal ini dan mengambil hikmahnya. Anda tahu mengapa? Karena lemahnya iman kita. Keimanan yang harusnya menjadikan penghalang malah ditukar dengan nafsu yang menggebu-gebu. Masihkah kita menyanjung tinggi hubungan yang nyata-nyata dilarang dalam Agama?

Ingatlah sahabat, hanya pasangan halalmu yang paling berhak untuk memilikimu Lahir batin, Luar dalam. Bukan seseorang yang tidak diketahui dan setiap waktu bisa saja pergi meniggalkanmu.

Nasibmu Tidak Ditentukan Oleh Zodiakmu




# Aquarius

Asmara       :   Doi Kayaknya lagi badmood
Kesehatan   :  Jangan terlalu lama bermain di depan komputer
Keuangan   :   Uang saku habis, keuangan krisis

==================================================

Ayo, ada yang mau ngaku siapa yang suka baca ramalan bintang atau zodiak?

Biasa zodiak seperti dimuat di berbagai majalah remaja setiap bulannya. Ada yang percaya sepenuhnya dan ada juga yang baca sekedar iseng-iseng doang. Tapi kita wajib tahu kalau zodiak menyimpan bahaya yang sangat luar binasa. Bahaya seperti apa yang ada pada zodiak?

Membaca zodiak dapat membuat seseorang terjerumus ke dalam kesyirikan ketika kita mempercayai ramalan yang ada di dalamnya. Kemudian, keimanan kita akan dipermainkan secara perlahan oleh syaithan.

Allah berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisaa : 116)

Menyekutukan Allah atau syirik merupakan dosa besar ayng tidak akan diampuni oleh Allah, jika seseorang meninggal dan belum sempat memohon ampunan-Nya. Itulah mengapa kita harus menghindar sejauh mungkin dari hal-hal yang membawa kita kepada kesyirikan. Dan salah satunya dengan tidak mempercayai ramalan.

Jangan pernah percaya tentang perkara masa depan yang ditulis oleh para penulis ramalan, karena sesungguhnya hanya Allah satu-satunya yang mengetahui seluruh perkara yang ghaib. Dan seorang muslim juga wajib mengimani rukun iman ke-6  percaya terhadap qada dan qadar, yaitu takdir baik dan buruk.

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Al-An'am : 59)

Jadi, kenapa sih sering kali yang dituliskan zodiak itu bisa terjadi pada kita? Jawabannya sederhana, Jika kita baca baik-baik redaksi dari ramalan zodiak, sebenarnya yang dituliskan adalah hal-hal yang bersifat umum dan semua orang sudah tahu akan hal itu. Itulah sebabnya kenapa ramalan bintang terkesan meyakinkan.

Mustahil semua orang yang memiliki zodiak yang sejenis akan bernasib sama. Tentu saja nasib dan apa yang akan dialami pada masa yang akan datang adalah hasil usaha mereka masing-masing.

Selfie Menurut Pandangan Islam



Selfie sudah menjadi fenomena sosial seiring meningkatnya popularitas media sosial dan kecanggihan perangkat gadget yang dilengkapi kamera. Selfie merupakan singkatan dari "self potrait" yang dapat di artikan foto hasil memotret diri sendiri.

"Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya."
~Dr Mariann Hardey

Hardey juga mengatakan bahwa dengan memamerkan foto selfi tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai', lebih-lebih jika ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.

Namun, bagaimana hukum selfie dalam Islam? Dari penjelasan di atas, selfie bisa menumbuhkan sifat riya' (ingin dipuji orang lain) dan 'ujub (mengagumi diri sendiri) yang dilarang dalam Islam.

Rasulullah melarang seseorang ujub atau kagum terhadap dirinya, bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai dosa yang dapat membinasakan dalam haditsnya :

"Tiga dosa pembinasa : sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seorang terhadap dirinya." (HR. Thabrani dari Anas bin Malik)

Selfie lalu menyimpan foto untuk dokumentasi pribadi saja, tanpa dipublikasikan tentu saja tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika diekspos di media sosial pasti berpotensi menimbulkan sifat riya' dan 'ujub,. Sehingga bisa membuat kita kehilangan sifat tawadhu' (rendah hati). Salah satu bukti selfie bisa menimbulkan 'ujub adalah munculnya penyakit depresi facebook (Facebook despression), yaitu penyakit kejiwaan yang membuat seseorang merasa terabaikan setelah menulis status atau mengunggah foto karena tidak ada 'Like' atau 'Komentar' dari siapapun.

Demikian hukum selfie dalam Islam, terkait dengan riya' dan 'ujub, bahkan juga dapat membuat pelaku menjadi takabur. Semoga saja kita selaku umat Muslim tidak terjangkit penyakit itu.

Janet Jackson Resmi Masuk Islam



Beberapa jam yang lalu, Janet Jackson akhirnya dinyatakan telah masuk Islam, setelah berita simpang-siurnya kurang lebih 3 tahun belakangan ini. Demikian dilansir oleh MSN.

Pada tahun 2012, Janet menikah dengan Wissam Al Mana. Dalam beberapa tahun terakhir adik mendiang Michael Jackson itu memang begitu serius mempelajari Islam. Bahkan ia telah meninggalkan kebiasaannya, dan mencoba memakai pakaian seorang muslimah.

Seorang sumber mengatakan kepada The Sun : "Janet merasa seperti telah menemukan rumah dengan agama barunya dan mengatakan kepada anggota keluarganya, yang benar-benar menghormati pilihannya. Dia telah menghabiskan banyak waktu mempelajari agama Islam ini dan pengikutnya. Gerakan tarian cabul dan lirik seksual sudah selesai untuk janet."

The Sun melaporkan bahwa Janet bahkan menyatakan tur dunia 'Unbreakable'-nya hanya akan digelar dengan kalimat "Insya Allah". Sementara itu, Janet sendiri sudah manrik diri, tak akan terlibat lagi pada Festival Musik iHeartRadio akhir pekan ini.

Aysen Gurcan, Menteri Turki Pertama yang Memakai Jilbab

Aysen Gurcan

Islampoin.com - Turki, memang merupakan sebuah negara muslim terkenal di dunia. Namun, ada satu peraturan aneh yang di terapkan oleh pemerintah turki. yaitu wanita / perempuan yang ada pada negeri di larang memakai jilbab terutama yang berstatus sebagai pegawai pemerintah.

Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah Turki yang merupakan Negara Muslim Tapi sekuler. Seorang wanita muslim yang memakai jilbab menjadi Seorang Menteri, informasi ini saya dapatkan pada WorldBulletin sabtu lalu (29 Agustus 2015).

Wanita yang saya maksud adalah Aysen Gurcan, beliau merupakan seorang akademisi yang berumur 52 tahun. Aysen Gurcan di angkat pada hari Jum'at sebagai menteri yang bertanggung jawab pada bidang keluarga dan kebijakan sosial dalam pemerintahan.

Ibu dari tiga anak ini merupakan seorang anggota dewan dari yayasan Pemuda dan Pendidikan (TURGEV)  Milik Bilal Erdogan, putra dari Presiden Recep Tayyip Erdogan yang merupakan seorang eksekutif.

Sebenarnya dalam dua tahun terakhir, larangan Berjilbab bagi perempuan dan anak - anak. terutama pegawai pemerintah telah di angkat, Namun hal ini di kecam karena di anggap merusak hak dasar dari masyarakat di Negera Sekuler tersebut.

Wahai Wanita! Perhatikan 12 Aurat yang Ada Padamu



Bagi seorang muslim, sudah menjadi kewajibannya untuk menutup aurat, terebih bagi yang sudah cukup umur(baligh).Bagi laki-laki hendaknya ia menutup auratnya dari bagian pusar hingga lutut. Sedangkan bagi wanita auratnya dimulai dari bagian kepala hingga ujung kaki, kecuali telapak tangan dan muka.

Adapun bagian-bagian yang harus diperhatikan oleh wanita ketika menutup auratnya, di antaranya sebagai berikut :


1. Bulu Kening.


Menurut Imam Bukhari : Rasulullah melaknat orang yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu keningnya." (Riwayat Abu Daud Fi Fathul Bari)

2. Kaki (Tumit Kaki).



 وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ


"Dan janganlah mereka (wanita) menhentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasannya." (QS An-Nur : 31)


3. Wewangian.


"Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu waktu supaya mereka mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata adalah zina." (Riwayat Nasaii, Abu Khuzaimah dan Hubbah)

4. Dada.



وَعَلَى جُيُوبِهِنَّ لْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ 


".. Hendaklah mereka(wanita) menutupkan kain kudung ke dadanya..."(QS. An-Nur : 31)

5. Gigi.


"Rasulullah melaknat wanita yang mengikir giginya dan yang minta dikikirkan giginya." (Riwayat At-Thabrani)
"Dilaknat wanita yang menjarangkan giginya dan merubah ciptaan Allah."(Riwayat Bukhari dan Muslim)

6. Muka dan Tangan.


Asma binti Abu Bakar telah menemui rasulullah dengan pakaian yang tipis. Sabda Rasul : "Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

7. Tangan.


"Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya." (Riwayat At-Thabrani dan Baihaqi)

8. Mata.


Sabda Nabi Muhammad SAW : "Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya, kamu hanya boleh pandangan yang pertama, pandangan seterusnya tidak dibenarkan." (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

9. Mulut (Suara).



فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفًا



"Janganlah wanita-wanita itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataanyang baik." (QS Al-'Ahzab : 32)

10. Kemaluan.


"Apabila seorang wanita itu sembahyang lima waktu, puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia kedalam syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya." (Riwayat Al-Bazzar)

11. Pakaian.


"Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan pada hari akhirat nanti." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, An nasaii dan Ibnu Majah)

12. Rambut.


"Wahai anakku Fatimah! Adapun wanita-wanita yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)


Dalam hal ini wanita sangat dianjurkan untuk menutup auratnya, bahkan diwajibkan dalam Islam. Allah swt. berfirman dalam surah Al-'Ahzab : 59.



يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

"Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukmin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Bagaimana menurut Anda dengan artikel ini? Jika bermanfaat, silahkan bagikan artikel ini kepada saudara-saudara kita agar kita bisa mendapat balasan baik di sisi Allah swt.